
Tulisan ini terinspirasi dari konten hierarki setan lokal yang ditayangkan akun bapak2id di Instagram, pada hari Kamis, 16 Februari 2023. Setan, seperti yang kita ketahui, merupakan makhluk tak kasat mata. Barangkali inilah sebabnya masyarakat terbagi menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Banyak yang percaya tetapi tidak sedikit pula yang meragukan, bahkan dengan yakin mengatakan bahwa setan tak lebih dari produk suatu ilusi, akibat salah lihat, misalkan, saat pikiran sedang kosong atau tak karuan, yang mengakibatkan seseorang tak mampu mengendalikan persepsi, lalu terjerat pada suatu ilusi. Terlepas terjadinya silang pendapat, kehadiran konsep setan merupakan sesuatu yang tidak bisa disangkal. Saya meyakini terdapat sebuah pesan yang tersemat di dalamnya.
Konsep setan
Sebelum berbicara lebih lanjut, ada baiknya kita mengenal konsep setan. Konsep, bisa dikatakan sebagai gambaran mengenai suatu objek. Di artikel ini, objek yang dimaksud adalah setan. Dalam perkembangan peradaban di Indonesia, rupanya konsep setan mengalami perubahan.
Contohnya, pada era klasik (Hindu-Budha), setan diyakini sebagai wujud dari kutukan yang diberikan dewa kepada suatu makhluk, entah manusia, bidadari, atau lainnya, karena telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Kitab Kidung Sudamala mengisahkan tentang Betari Durga melakukan perbuatan yang tak pantas kepada dewa lain. Dikutuklah ia oleh sang suami. Durga yang tadinya dewi yang cantik tanpa ibarat, menjadi sosok menyeramkan. Rambutnya awut-awutan, bertaring panjang, secara singkat penampakannya seperti setan perempuan daripada dewi. Selama masa kutukan, Durga yang kemudian dikenal sebagai Ra-nini, tinggal di Setra Gandamayit dan memimpin bala tentara setan, yang dulunya juga makhluk lain dan bernasib sama dengan sang dewi. Mereka menunggu kapan waktunya dibebaskan dari kutukan yang menjerat, oleh si bungsu Pandawa, yakni, Sadewa, yang dibantu oleh Batara Guru. Selain membaca Kidung Sudamala, kita bisa melihatnya dalam bentuk relief di candi Tegowangi dan candi Sukuh.
Adapun jenis-jenis setan yang ada pada saat itu, juga digambarkan dalam Kakawin Sena. Oh, kuntilanak, tuyul, pocong, genderuwo, jin, dan berbagai setan “modern” yang dikenal masyarakat luas saat ini, belum ada. Secara singkat, pada masa tersebut, entitas setan “lahir” akibat perbuatan buruk dilakukan suatu makhluk, kemudian mendapatkan balasan yang sama seperti perbuatannya. Mereka menunggu atau mencari cara agar kembali menjadi makhluk sebelum mengalami kutukan. Artinya, konsep setan yang beredar pada era klasik dititikberatkan pada peristiwa metamorfosis.
Perubahan konsep setan
Kalau masa sebelumnya suatu sosok menjadi setan akibat kutukan, pada masa yang lebih modern, konsep setan mengalami perubahan. Seperti misalkan, entitas tak kasat mata memang sudah diciptakan sejak dahulu, punya tugas menggoda manusia agar melirik jalan sesat, atau membuat diri kita celaka akibat perbuatan iseng yang dilakukannya. Dan tentu saja, yang paling populer ketika seseorang mati dengan cara tak biasa, anggaplah dihabisi pelaku tindak kekerasan, yang mengalami kematian tidak terima seutuhnya, lalu menjadi setan yang terus mengganggu pelaku yang membuatnya demikian. Tidak hanya di era klasik, setan-setan yang ada pada masa modern pun punya kisah masing-masing. Barangkali bisa berupa urban legend, atau sekedar cerita tentang seseorang yang pernah diganggu oleh mereka. Bisa dikatakan pula setan-setan modern, “hidup” dengan prinsip kesenangan, mirip seperti anak-anak ketika menjalankan hidup. Sementara di masa sebelumnya, lebih mengarah pada aspek menjalankan penderitaan hidup pasca dikutuk akibat perbuatan yang telah dilakukan.
Perbandingan setan lokal dan luar negeri
Selain adanya perbedaan konsep setan di masa lalu dan setelahnya di Indonesia, di Eropa, misalkan, punya konsep berbeda. Paling gampang, dilihat dari pakaian yang dikenakan. Pasti pernah kita kebingungan, dan lahirlah pertanyaan, “Mengapa setan Eropa lebih mengedepankan kesan borjuis dan kejam, sementara di Indonesia lebih banyak digambarkan sebagai sosok gembel?” Terdapat jawaban sederhana. Baik bangsa Eropa maupun orang kita sendiri, konsep setan sangat tergantung dari pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Mungkin juga dipengaruhi oleh perjalanan hidup sosok tersebut sebelum menjadi setan. Masyarakat Eropa, menurut saya, lebih senang menggambarkan setan berpakaian necis, contohnya drakula dan vampir, karena kaum bangsawan dianggap menyusahkan masyarakat kelas dibawahnya, bahkan memberikan penderitaan, atau membuat musuh negara menjadi takut. Lihat Vlad the Impaler, lihat Elizabeth Bathory. Sementara setan-setan lokal Indonesia tidak begitu. Setidaknya yang saya ketahui.
Pesan dari tiap-tiap karakter setan
Kuntilanak
Kuntilanak selalu diceritakan tentang perempuan baik-baik, punya kehidupan yang baik juga, lalu suatu hari, tertimpa bencana. Biasanya menjadi korban aksi kejahatan. Selanjutnya, seperti yang diketahui, perempuan tersebut menjadi sosok mengerikan dan tak lupa melakukan aksi balas dendam. Ada pesan yang tersemat dalam sosok Kuntilanak: tentang rawannya perempuan menjadi korban tindakan kriminal, utamanya kejahatan seksual.
Sundel Bolong
Sosok yang bisa dianggap kuntilanak-sister, yakni, Sundel Bolong, kerap dikisahkan perempuan yang mati saat melahirkan, atau beranak dalam kubur. Selanjutnya berubah menjadi setan berciri khas perut bolong. Pesannya sangat mudah terbaca: sulitnya mendapatkan akses kesehatan reproduksi, perawatan saat mengandung, minimnya pengetahuan yang seharusnya dipunyai oleh orang-orang disekitar, dan seterusnya, yang berakibat seorang ibu mati dalam kondisi berbadan dua. Kedua jenis setan ini memang menitikberatkan pada sulitnya hidup yang dirasakan perempuan, terlebih berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah.
Tuyul
Merupakan setan berkepala botak berwujud anak-anak yang gemar mencuri uang. Ada pesan lain selain tentang kesenjangan sosial yang dirasakan oleh masyarakat tidak mampu, sehingga mereka melakukan aksi pencurian kepada golongan kelas atas, yaitu, dilarangnya orang tua meminta, menyuruh, bahkan memaksa anak-anak untuk bekerja yang belum cukup usia. Karena pada dasarnya anak-anak memang belum mengerti dan memahami apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Bukan tidak mungkin saat mencari uang, anak-anak melakukan aksi pencurian. Barangkali juga sejalan dengan konsep tingkatan hidup yang sempat dipegang erat-erat oleh masyarakat masa lampau, yaitu, catur asrama alias empat tingkatan hidup yang dilalui manusia. Pada tahap pertama disebut brahmacari atau fase menuntut ilmu. Di sinilah seharusnya anak-anak menghabiskan waktu untuk belajar dan menuntut ilmu, bukannya membantu perekonomian keluarga, atau meng-amin-kan keinginan anak untuk bekerja padahal masih berada di tahap brahmacari.
Dari ketiga contoh yang disebutkan, rupanya sangat kontras perbedaan konsep setan ala barat dengan Indonesia. Kalau bangsa kulit putih mengambil fenomena kehidupan kelas bangsawan beserta masalahnya, bangsa kita lebih memfokuskan pesan tentang kesulitan hidup, khususnya mereka yang berada kategori menengah bawah pada fenomena setan modern, dan pada masa klasik (Hindu-Budha) lebih mengarah soal bagaimana seseorang mencari titik balik setelah mendapatkan kejadian mengenaskan dalam hidupnya.
Saya pikir, hal-hal semacam inilah yang kerap menghantui manusia saat menjalankan kehidupan. Tak jarang pula menimbulkan kesan horor. Kemudian, sebagai pengingat, lahirnya cerita-cerita setan. Saya pikir, pesan yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut yang paling penting untuk diketahui. Perkara percaya atau tidak akan eksistensi mereka, terserah saja.